Susu, juga dikenal sebagai asosiasi simpan pinjam bergilir (ROSCA), adalah tradisi berusia berabad-abad yang telah dipraktikkan oleh masyarakat di seluruh dunia. Konsep susu sederhana namun mempunyai kekuatan – sekelompok individu mengumpulkan uang mereka secara teratur, dan masing-masing anggota secara bergiliran menerima sejumlah uang yang dapat mereka gunakan untuk berbagai tujuan, seperti memulai bisnis, membiayai pendidikan, atau menutupi pengeluaran tak terduga.
Asal usul susu dapat ditelusuri kembali ke Afrika, dimana susu telah menjadi praktik umum selama beberapa generasi. Di Afrika Barat, susu dikenal sebagai “sousou” atau “susu” di negara-negara seperti Ghana, Nigeria, dan Sierra Leone. Di wilayah-wilayah ini, susu memainkan peran penting dalam tatanan ekonomi dan sosial masyarakat, memberikan jalan bagi individu untuk mengakses modal dan saling mendukung secara finansial.
Susu juga telah dipraktikkan di belahan dunia lain, termasuk Asia, Karibia, dan Amerika Latin. Di negara-negara seperti India, Indonesia, dan Filipina, susu dikenal sebagai “chit funds” atau “committees”. Di Karibia, susu disebut sebagai “partner” atau “pardners”, sedangkan di Amerika Latin dikenal sebagai “tandas” atau “cundinas”.
Selama bertahun-tahun, susu telah berevolusi dan beradaptasi dengan konteks budaya dan ekonomi yang berbeda. Di beberapa komunitas, kelompok susu menjadi lebih formal, dengan aturan dan peraturan yang mengatur bagaimana uang dikumpulkan, didistribusikan, dan dikelola. Di tempat lain, susu masih merupakan praktik yang lebih informal, dimana pesertanya mengandalkan kepercayaan dan saling pengertian untuk menjaga sistem berjalan lancar.
Dalam beberapa tahun terakhir, susu semakin populer di Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, khususnya di kalangan komunitas imigran. Karena layanan perbankan tradisional mungkin tidak dapat diakses atau terjangkau bagi sebagian individu, susu menyediakan cara bagi masyarakat untuk menyimpan dan mengakses dana dengan cara yang lebih fleksibel dan berorientasi pada komunitas.
Munculnya teknologi digital juga telah mengubah cara kerja susu. Platform online dan aplikasi seluler kini memungkinkan kelompok susu mengelola keuangan mereka dengan lebih efisien, melacak kontribusi dan pembayaran, dan terhubung dengan anggota di berbagai lokasi.
Meskipun memiliki sejarah panjang dan popularitas yang luas, susu bukannya tanpa tantangan. Permasalahan seperti penipuan, salah urus, dan perselisihan antar anggota kelompok dapat muncul, sehingga berpotensi menimbulkan konflik dan kerugian finansial. Seiring dengan terus berkembangnya susu di dunia modern, penting bagi para peserta untuk menetapkan pedoman dan perlindungan yang jelas untuk melindungi integritas sistem.
Kesimpulannya, susu adalah tradisi abadi yang telah teruji oleh waktu, memberikan sumber dukungan finansial dan solidaritas yang berharga bagi komunitas di seluruh dunia. Ketika praktik ini terus beradaptasi dengan perubahan keadaan dan teknologi, susu kemungkinan akan tetap menjadi alat penting bagi individu yang ingin membangun kekayaan, saling mendukung, dan mencapai tujuan keuangan mereka.
